Suasana Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, terasa berbeda pada Jumat (22/5/2026) siang. Di balik tatapan penasaran mahasiswa yang memenuhi setiap kursi, berdiri sosok yang selama bertahun-tahun akrab di telinga pecinta musik tanah air—Salman Sakti Al Jugjawy, mantan gitaris legendaris Sheila on 7.
Kehadirannya kali ini bukan untuk membawakan lagu-lagu yang pernah merajai tangga musik Indonesia. Salman hadir sebagai narasumber seminar bertajuk "Reorientasi Musik Sebagai Instrumen Dakwah di Kalangan Gen Z," yang digelar oleh Badan Otonom Mahasiswa Fakultas (BOM-F) DK Musik UIN Sunan Kalijaga—sebuah forum yang mencoba menjawab pertanyaan yang kerap mengganjal: dapatkah musik dan dakwah berjalan beriringan?
Perjalanan spiritual Salman menjadi cerita yang paling dinantikan para peserta. Dengan gaya bertutur yang santai dan sesekali diselingi humor, ia mengenang masa mudanya yang diwarnai kecintaan pada musik rock—terutama pada sosok Slash, gitaris Guns N' Roses. Pilihan bersekolah di SMA De Britto pun, ia akui, semula bukan karena alasan akademis.
"Saya milih De Britto karena, saya pengin tahu nih gimana nih bisa pakai baju putih tapi rambut bisa manjang," kata Sakti.
Gelak tawa memenuhi ruangan. Namun di balik cerita jenaka itu tersimpan perjalanan hidup yang sungguh-sungguh berbelok. Sebuah pengalaman di Bali dan perenungan mendalam tentang kematian menjadi titik balik yang mendorong Sakti meninggalkan panggung besar menuju jalan dakwah. Kini ia meyakini bahwa musik bukan halangan, melainkan potensi yang menunggu diarahkan.
"Musik sebagai media dakwah itu fitrah, karena semua orang menyukai keindahan. Yang perlu dibahas adalah bagaimana hobi bermusik tetap bisa tersalurkan namun tetap bernilai pahala," ucap Sakti.
Sakti mengibaratkan keterampilan bermusik seperti senter mahal yang tak akan berguna tanpa baterai di dalamnya. Bagi dia, baterai itu adalah niat dan nilai yang melandasi setiap nada yang dihasilkan.
Ketegangan antara hukum musik dalam Islam dan praktik berkesenian memang bukan isu baru. Namun Dekan FDK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Arif Maftuhin, melihat seminar ini sebagai ruang yang tepat untuk mendiskusikan pergulatan tersebut secara matang—tanpa saling menghakimi. Dengan menoleh ke sejarah, ia mengingatkan bahwa tradisi dakwah kultural sesungguhnya telah lama berakar di Nusantara.
"Tidak ada tempat berburu yang lebih baik untuk menyelesaikan dilema-dilema dan ketegangan-ketegangan antara dosa boleh, halal, haram, dakwah, maksiat, selain dengan orang yang pernah ada di industri itu. Dalam sejarahnya, para wali pun menggunakan musik sebagai media dakwah—dakwah dan musik berkolaborasi bukan sesuatu yang jauh," kata Arif.
Transformasi Sakti juga mencuri perhatian Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Dr. Muhsin Kalida. Ia mengamati bagaimana syair-syair yang dibawakan Salman dalam beberapa tahun terakhir bergeser dari tema duniawi menuju pesan ketuhanan yang kuat.
"Saya kaget, pusing tetap, tapi syairnya kok berubah menjadi religius. Ini menarik bagi kami karena mencoba ada kajian-kajian yang berkaitan dengan rasa," kata Muhsin.
Seminar ini pun bukan sekadar wacana. DK Musik, komunitas mahasiswa yang berdiri sejak 2025 dan bergerak di bidang pengkajian musik sebagai instrumen syiar, yang dibina oleh bapak Sudharno Dwi Yuwono, M.Pd., serta dipimpin oleh Ketua DK Musik, Dzaky Armian serta tim panitia yang secara serius dan berkomitmen mempersiapkan kegiatan ini.
Mengawali acara DK Musik terlebih dahulu tampil membawakan lagu orisinil mereka sendiri berjudul "Jalan Sunyi". Lagu ini memiliki nuansa religi yang kuat meski dibalut dengan lirik yang tersirat. Forum ditutup dengan kolaborasi hangat antara Sakti dan DK Musik dalam lagu "Hey Dunia," diiringi senyum dan sesi foto bersama.