Kegelisahan dari sudut dapur rumah tangga sering kali berakhir di saluran air sebagai limbah yang menyumbat drainase dan mencemari ekosistem. Namun, di tangan sekelompok mahasiswa di Yogyakarta, persoalan domestik harian ini bertransformasi menjadi sebuah gagasan perubahan lingkungan yang dibawa ke panggung nasional. Melalui kolaborasi pemikiran, mereka menawarkan solusi praktis berbasis komunitas untuk menekan dampak buruk sisa minyak goreng terhadap alam.
Pada Kamis (25/6/2026), kelompok Climate Warrior dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mempresentasikan proposal proyek sosial bertajuk "Eco Cupir" dalam ajang Green Impact Project yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation bekerjaama Solopos Media Group. Dipresentasikan secara daring, rancangan inovasi daur ulang ini bersaing dengan ide-ide kreatif dari sekitar 400 mahasiswa yang berasal dari berbagai kota di Jawa, termasuk Solo, Semarang, Kudus, Bandung, dan Yogyakarta.
Proyek Eco Cupir digagas oleh tim lintas disiplin yang beranggotakan Nova, Rafi Rahmad F, Resi Akbar Permana, Oeriza Sandey Hardika, Ariby Aulia Fitri, dan Tafdhila Adzkia Rahma dalam satu komunitas Climate Warrior Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Gagasan utama mereka berpusat pada prinsip ekonomi sirkular, yaitu mengumpulkan minyak goreng bekas dari sisa konsumsi rumah tangga untuk diolah kembali menjadi produk sabun cuci piring ramah lingkungan yang bernilai guna dan aman bagi air tanah.
Inisiatif nyata ini lahir dari pengamatan mendalam terhadap kebiasaan masyarakat di lingkungan sekitar yang masih minim edukasi mengenai pengelolaan limbah cair. "Semua perjalanan ini dimulai dari sebuah kegelisahan sederhana di dapur. Kami melihat betapa seringnya minyak jelantah sisa penggorengan dibuang begitu saja ke saluran air, tanpa disadari bahwa ia membawa dampak buruk bagi ekosistem lingkungan," ujar Resi Akbar Permana, salah satu anggota tim pelaksana. Bersama Oeriza Sandey Hardika, tim ini menghabiskan waktu riset intensif guna menyusun formula sabun yang efisien agar gerakan ini berkelanjutan saat diterapkan di tengah masyarakat.
Oeriza Sandey Hardika, menambahkan bahwa melalui gerakan ini, mereka ingin menunjukkan bahwa limbah dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung gaya hidup berkelanjutan. Dengan pendanaan dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation, tim akan bergerak selama enam pekan di wilayah percontohan RT 25/RW 17, Plumbon, Banguntapan, Bantul.
“Kita akan menggandeng ibu-ibu PKK sebagai motor penggerak pengumpulan jelantah dan agen pelatihan produksi sabun harian. Untuk mencegah hingga 40 liter jelantah mencemari saluran air dan mendistribusikan lebih dari 150 unit sabun ramah lingkungan kepada masyarakat” kata Oeriza.
Langkah taktis anak muda ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari pihak birokrasi kampus. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FDK UIN Sunan Kalijaga, Dr. Muhsin, M.Ag., menyampaikan bahwa keterlibatan aktif mahasiswa dalam merespons isu lingkungan global merupakan wujud nyata dari pengabdian masyarakat yang patut dicontoh.
"Tentu saya mengucapkan selamat, ini merupakan apresiasi dan pengakuan yang sangat bagus dari pihak luar. Ini sebagai karya mahasiswa yang peduli khususnya terhadap pengolahan limbah rumah tangga di antaranya jelantah itu," kata Muhsin. Ia juga menambahkan bahwa pencapaian tim Climate Warrior ini diharapkan menjadi motivasi kuat bagi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan kreativitas sekaligus mengadvokasi warga terkait pentingnya menjaga kelestarian alam sekitar.
Ikhtiar pengolahan limbah sirkular melalui proyek Eco Cupir ini memberi refleksi penting bahwa penyelamatan lingkungan tidak selalu harus bermula dari kebijakan berskala makro. Melalui pemaparan proposal tersebut, para mahasiswa ini menunjukkan bahwa kontribusi nyata untuk merawat bumi dapat diawali dari hal paling dekat, yakni pengelolaan bak cuci piring di rumah kita sendiri.
Dilihat 0 Kali
Rabu, 01 Juli 2026 14:48:00 WIB