Dilihat 0 Kali

02_466_IMG_4763.JPG
Ketua Program Studi IKS Izzul Haq dalam sambutan public lecture

Jumat, 02 Oktober 2026 15:17:00 WIB

Prodi IKS Hadirkan Shu-Hua Kang Dari Taiwan Dalam Public Lecture

Kegiatan perkuliahan umum (public lecture) berlangsung hari ini diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS). Mengangkat tema “NPO Development in Taiwan: Practical Insights from My Journey in Social Work & Social Innovation,” acara tersebut menghadirkan Dr. Shu-Hua Kang, Asisten Profesor dari Departemen Pekerjaan Sosial National Taipei University, Taiwan, serta diikuti oleh puluhan dosen dan mahasiswa IKS di ruang Rapatl Lt.2, Kamis(1/10).

Dalam sambutannya, Ketua Program Studi IKS Izzul Haq menekankan bahwa pemahaman mengenai organisasi nonprofit (Nonprofit Organization/NPO) sangat krusial bagi para calon pekerja sosial muda. Keberadaan sektor ketiga ini melengkapi peran yang tidak selalu tersentuh oleh pemerintah maupun pasar.

"Pekerja sosial tidak hanya bekerja dalam wilayah lembaga pemerintah atau pelayanan sosial formal. Di berbagai belahan dunia, organisasi nonprofit memainkan peran penting dalam merespons masalah sosial, memberdayakan masyarakat, melakukan advokasi kelompok rentan, hingga melahirkan inovasi sosial," ujar Izzul Haq alumnus program doktoral School of Social Work di McGill University, Kanada.

Menyambung pemikiran tersebut, Dr. Shu-Hua Kang memaparkan perjalanan panjang sektor nonprofit di Taiwan. Sektor ini tumbuh pesat terutama setelah berakhirnya era hukum darurat (martial law) pada tahun 1987, yang membuka keran demokratisasi dan partisipasi masyarakat sipil. Kini, terdapat puluhan ribu organisasi sosial yang hidup dan berakar dalam keseharian warga Taiwan.

Shu-Hua Kang menambahkan pengalaman praktis selama 12 tahun mendampingi perempuan penyintas kekerasan di Taipei Women’s Rescue Foundation memberikan gambaran konkret. Salah satu terobosannya adalah melahirkan inisiatif Swing Reeds, sebuah program inovasi sosial yang mengolah karung goni bekas wadah kopi menjadi beragam produk kriya bernilai guna. “Langkah ini tidak hanya mengurangi limbah lingkungan, tetapi juga membukakan lapangan kerja serta ruang partisipasi sosial bagi perempuan usia menengah,” kata Kang.

Bagi Kang, pendekatan komersial yang beretika justru mampu memperluas dampak sosial tanpa mengorbankan misi utama organisasi. "Produk bukan sekadar alat untuk menghasilkan pendapatan (revenue), melainkan pintu masuk untuk membuka dialog sosial di tengah masyarakat," tutur Kang.

Diskusi interaktif ini memantik mahasiswa untuk membandingkan lanskap pekerjaan sosial di Taiwan dengan realitas di Indonesia. Pertukaran gagasan ini tidak dirancang untuk sekadar meniru model asing, melainkan menjadi cermin reflektif untuk merumuskan inovasi pelayanan sosial yang relevan dengan konteks local. (prfdk)