Kegiatan perkuliahan umum (public
lecture) berlangsung hari ini diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu
Kesejahteraan Sosial (IKS). Mengangkat tema “NPO Development in Taiwan:
Practical Insights from My Journey in Social Work & Social Innovation,”
acara tersebut menghadirkan Dr. Shu-Hua Kang, Asisten Profesor dari Departemen
Pekerjaan Sosial National Taipei University, Taiwan, serta diikuti oleh puluhan
dosen dan mahasiswa IKS di ruang Rapatl Lt.2, Kamis(1/10).
Dalam sambutannya, Ketua Program
Studi IKS Izzul Haq menekankan bahwa pemahaman mengenai organisasi nonprofit
(Nonprofit Organization/NPO) sangat krusial bagi para calon pekerja sosial muda.
Keberadaan sektor ketiga ini melengkapi peran yang tidak selalu tersentuh oleh
pemerintah maupun pasar.
"Pekerja sosial tidak hanya
bekerja dalam wilayah lembaga pemerintah atau pelayanan sosial formal. Di
berbagai belahan dunia, organisasi nonprofit memainkan peran penting dalam
merespons masalah sosial, memberdayakan masyarakat, melakukan advokasi kelompok
rentan, hingga melahirkan inovasi sosial," ujar Izzul Haq alumnus program
doktoral School of Social Work di McGill University, Kanada.
Menyambung pemikiran tersebut,
Dr. Shu-Hua Kang memaparkan perjalanan panjang sektor nonprofit di Taiwan.
Sektor ini tumbuh pesat terutama setelah berakhirnya era hukum darurat (martial
law) pada tahun 1987, yang membuka keran demokratisasi dan partisipasi
masyarakat sipil. Kini, terdapat puluhan ribu organisasi sosial yang hidup dan
berakar dalam keseharian warga Taiwan.
Shu-Hua Kang menambahkan pengalaman
praktis selama 12 tahun mendampingi perempuan penyintas kekerasan di Taipei
Women’s Rescue Foundation memberikan gambaran konkret. Salah satu terobosannya
adalah melahirkan inisiatif Swing Reeds, sebuah program inovasi sosial yang
mengolah karung goni bekas wadah kopi menjadi beragam produk kriya bernilai
guna. “Langkah ini tidak hanya mengurangi limbah lingkungan, tetapi juga
membukakan lapangan kerja serta ruang partisipasi sosial bagi perempuan usia
menengah,” kata Kang.
Bagi Kang, pendekatan komersial
yang beretika justru mampu memperluas dampak sosial tanpa mengorbankan misi
utama organisasi. "Produk bukan sekadar alat untuk menghasilkan pendapatan
(revenue), melainkan pintu masuk untuk membuka dialog sosial di tengah
masyarakat," tutur Kang.
Diskusi interaktif ini memantik
mahasiswa untuk membandingkan lanskap pekerjaan sosial di Taiwan dengan
realitas di Indonesia. Pertukaran gagasan ini tidak dirancang untuk sekadar
meniru model asing, melainkan menjadi cermin reflektif untuk merumuskan inovasi
pelayanan sosial yang relevan dengan konteks local. (prfdk)