Dilihat 0 Kali

02_258_IMG_9624 - Copy.JPG
Rangkaian kegiatan Syawalan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Kamis, 02 April 2026 12:57:00 WIB

Menyelami Filosofi Maaf dan Kerapuhan Manusia di Syawalan FDK 1447 H

Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti ruang Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga pada Kamis, 2 April 2026, tatkala jajaran pimpinan, dosen, pegawai, hingga para purnatugas berkumpul merayakan Syawalan.

Acara ini menjadi bukan sekadar rutinitas pasca-Ramadan, melainkan wadah pembinaan spiritual yang menggugah jiwa. Dekan FDK, Prof. Dr. Arif Maftuhin, dalam sambutannya menegaskan pentingnya momentum syawalan ini sebagai titik balik penguatan ikatan kekeluargaan antar-pegawai. “Semoga acara ini bisa bermanfaat untuk kita semua”, kata Arif.

Pusat perhatian acara syawalan tertuju pada Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag, sebagai pembicara yang menyampaikan perspektif filosofis tentang permaafan yang jauh dari sekadar kata "kosong-kosong". Menurut Fahruddin Faiz mengutip "rumus" legendaris Kanjeng Sunan Kalijaga: Lebaran, Leburan, Laburan, dan Luberan. Ia menjelaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar tuntasnya kewajiban (lebaran), melainkan proses meleburnya dosa (leburan) yang kemudian harus diisi dengan amal putih (laburan) dan semangat berbagi kebahagiaan kepada sesama (luberan).

“Jadi Idul Fitri itu bukan babak final. Tapi Idul Fitri itu titik awal kita mulai start melakukan kebaikan selanjutnya karena sudah bersih. Kenapa sih harus bersih dulu? Yo, karena kalau kita belum bersih, melakukan kebaikan apapun itu bisa terkontaminasi oleh diri kita yang belum bersih. Kalau wadahnya kotor diisi dengan air sejernih apapun yo keluarnya air kotor. Maka Sunan Kalijago menyebut leburan dulu baru laburan.” Tutur Faiz.

Lebih lanjut menukil perkataan Gus Dur "Memaafkan itu tidak sama dengan melupakan," ujar Faiz di hadapan para dosen dan staf. Mengutip pemikiran Hannah Arendt, ia mengingatkan bahwa memaafkan adalah tindakan jiwa yang kuat—sebuah self-mastery—yang tidak serta-merta menghapus tuntutan keadilan atau mengharuskan rekonsiliasi instan more_horiz. Pesan ini menjadi sangat relevan dalam konteks profesionalisme kerja, di mana kesalahan manusiawi bisa dimaafkan, namun tanggung jawab dan kualitas kerja tetap harus ditegakkan.

Sisi humanis acara semakin kental saat memasuki prosesi pelepasan pegawai yang akan menunaikan ibadah haji. Momen ini menjadi manifestasi nyata dari semangat luberan—berbagi doa dan dukungan bagi kolega yang akan berangkat ke tanah suci. Keharuan menyelimuti ruangan saat seluruh hadirin memberikan penghormatan bagi Dr. Irsyadunnas, M.Ag dan istri mendapat panggilan spiritual tersebut.

Fahrudin Faiz menekankan pentingnya syawalan karena kita memerlukan orang lain karena kita lemah. Beliau menyadarkan bahwa ibadah puasa telah membuktikan kerentanan manusia tanpa pertolongan sesama, sehingga tradisi halalbihalal ini menjadi ruang pelepasan ego demi menciptakan kolaborasi dan kerja yang lebih produktif.

Puncak keakraban tergambar nyata di penghujung acara, di mana seluruh peserta tanpa sekat hierarki saling berjabat tangan, melebur kesalahan masa lalu, dan mengukir senyum keikhlasan. Perjumpaan emosional antara pegawai aktif dan purnatugas di ruangan tersebut menjadi bukti otentik bahwa dedikasi serta persaudaraan sejati tak pernah lekang oleh batas masa jabatan.(Kh)