Suasana hangat bercampur haru menyelimuti ruang Teatrikal
Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saat Pidato
Purna Bakti, Senin (31/8). Hari itu menjadi seremoni penanda batas pengabdian
formal bagi pendidik senior, Drs. Muhammad Abu Suhud, M.Pd. (dosen Prodi
Pengembangan Masyarakat Islam), yang resmi memasuki masa purna tugas.
Bagi FDK, perjalanan Abu Suhud adalah rajutan sejarah yang
panjang. Selama 36 tahun dan 4 bulan berkarya, ia telah melewati pasang surut
kepemimpinan kampus di bawah 12 rektor yang silih berganti. Sejak masa
kuliahnya pada tahun 1981 di fakultas yang sama, ia tumbuh bersama institusi
ini dan menyaksikan bagaimana wajah mahasiswa serta atmosfer akademik
bertransformasi.
Abu Suhud menjelaskan mengajar bukanlah rutinitas transfer
ilmu semata, melainkan kerja keras melatih ketangguhan mental mahasiswa. Di
ruang kelas, pedoman dan prinsip mendidik secara dinamis dilakukan. Agar
mahasiswanya tidak gugup saat terjun ke masyarakat, dan selalu mewajibkan
mereka untuk berani tampil berbicara di depan kelas.
"Setiap mata kuliah saya itu mahasiswa harus maju ke
depan, harus ceramah," kenang Abu Suhud. Metode tampil sepuluh menit
tersebut ia gunakan secara konsisten untuk melatih keberanian agar anak
didiknya tidak tumbuh menjadi "ayam sayur" yang bingung setelah lulus
nanti.
Dedikasi mendidik ini rupanya tumbuh subur melampaui pagar
kampus. Sahabat sekaligus rekan sejawatnya sejak membangun Prodi PMI pada tahun
1998, Dr. Muhammad Nazili, M.P.D., memberikan kesaksian hangat tentang kiprah
nyata sang senior di tengah masyarakat. “Di luar jam akademis, Pak Abu Suhud
aktif mengasuh jemaah di 11 masjid, bahkan hingga ke wilayah pelosok berbukit
di Gunung Kidul” kata Nazili.
"Pak Suhud ini kita semuanya tahu bahwa beliau ini
sangat berkomitmen dalam profesinya sebagai pengabdi," tutur Pak Nazili,
mengagumi keuletan sahabatnya yang konsisten membagi waktu untuk umat.
Karakter pendidik yang karismatik juga membekas kuat di hati
Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Abdur Rozaki. Saat awal merintis
karier sebagai dosen, Rozaki kerap mengintip dan belajar langsung dari cara
seniornya berorasi di kelas.
"Saya mendengar kuliahnya Pak. Abu Suhud. Ia
betul-betul orator. Bagaimana beliau itu mengajak mahasiswa, menginspirasi apa
yang dilakukan oleh Nabi," kenang Rozaki dengan penuh hormat. Baginya,
kehadiran Abu Suhud laksana "kohesi sosial perekat kami semua" di
lingkungan fakultas berkat pembawaannya
yang hangat dan menyejukkan.
Keuletan itu juga diamini oleh Dekan fakultas Dakwah dan
Komunikasi Prof. Arif Maftuhin. Sang Dekan teringat momen saat menghubungi Abu
Suhud pukul sembilan malam untuk urusan administrasi, namun mendapati sang
dosen masih berada di pelosok Gunung Kidul mendampingi masyarakat. "Pas
saya telepon itu... 'Aku di Gunung Kidul ini Pak Dekan.' Nah malam-malam jam
sembilan masih di Gunung Kidul," kenang Dekan menggambarkan keikhlasan
pengabdian yang berjalan sunyi tanpa pamrih tersebut.
Menjelang hari-hari purnabaktinya, Abu Suhud menitipkan dua
warisan pemikiran penting demi kemajuan FDK. Pertama, ia memimpikan adanya
asrama mahasiswa khusus untuk tahun pertama guna membantu proses adaptasi
sekaligus wadah pengabdian para dosen.
Kedua, ia mengusulkan gerakan kepedulian finansial berupa penyisihan sukarela sebesar 2,5 persen dari gaji pokok dosen untuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ). Langkah ini dirancang untuk menopang mahasiswa yang kesulitan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) agar tidak terpaksa mengambil cuti akademis. (prfdk)