Dalam upaya merespons masifnya perkembangan teknologi dan tantangan dakwah di era modern, Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) menggelar Participatory Action Research (PAR) yang dirangkai dengan Forum Group Discussion (FGD). Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, pada Rabu (5/8/2026).
Mengusung tema "Pemanfaatan Media Digital untuk Penguatan Dakwah bagi Para Da'i Muda Pedesaan di Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali", acara ini menjadi langkah strategis guna menyiapkan para pendakwah lokal agar lebih adaptif dan cerdas dalam memanfaatkan media sosial. Hasil dari penelitian dan kegiatan PAR ini rencananya akan dipresentasikan dalam ajang bergengsi International Dakwah Conference (IDACON) 2026 yang akan digelar oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi Penyiaran Islam pada 30 September mendatang.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala KUA Kecamatan Teras, Ketua Prodi KPI Dr. Abdul Rozak, M.Pd., Sekretaris Prodi KPI Dr. Khadiq, S.Pd., M.Hum., serta jajaran da'i muda dari berbagai pedesaan di Kecamatan Teras yang bertindak sebagai peserta FGD.
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Prodi KPI, Dr. Abdul Rozak, M.Pd. Dalam sambutannya, ia memaparkan data mengejutkan terkait penetrasi internet di Indonesia yang mengharuskan para da'i untuk segera beradaptasi dari dakwah konvensional ke mimbar digital.
"Menurut data APJII, pengguna handphone di Indonesia mencapai 350 juta, jauh melebihi jumlah penduduk. Pengguna media sosial mencapai 235 juta orang, di mana 35% adalah Generasi Z dan 25% Generasi X. Saat ini terjadi pergeseran ruang, masyarakat lebih suka melihat dakwah melalui platform digital seperti TikTok dan YouTube. Namun, media sosial itu terbuka tanpa filter. Banyak bertebaran 'sampah digital' atau informasi yang kebenarannya patut dipertanyakan. Oleh karena itu, para da'i harus melek digital; media sosial ibarat pisau yang kegunaannya bergantung pada siapa yang memegangnya." ujar Dr. Abdul Rozak.
Sebagai wujud komitmen bersama, acara dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Ketua Prodi KPI dengan Kepala KUA Kecamatan Teras. Kepala KUA menyambut baik inisiatif akademik ini karena dinilai sangat relevan dengan dinamika sosial masyarakat di akar rumput.
"Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas kerja sama ini, sebuah kehormatan bagi KUA Kecamatan Teras. Edukasi ini adalah bekal yang sangat penting bagi para da'iyah dan da'i kita di pedesaan agar memiliki kaidah-kaidah yang benar dalam berdakwah di media sosial. Tanpa pedoman, dakwah rentan menjadi provokatif atau menyimpang. Kami berharap MoU ini tidak hanya berhenti di sini, namun ada keberlanjutan edukasi sehingga kita semua cerdas secara digital dan tidak mudah terprovokasi." ungkap Ketua KUA Teras.
Memasuki sesi inti, pemaparan materi pertama disampaikan oleh Dr. Khadiq, S.Pd., M.Hum. Sesi ini berlangsung sangat interaktif dengan menggali langsung pengalaman empiris para da'i pedesaan dalam memanfaatkan handphone dan media digital untuk kepentingan dakwah. Peserta diajak berdiskusi tentang peluang serta hambatan yang mereka temui di lapangan.
Selanjutnya, materi kedua diisi oleh Muhammad Diak Udin, M.Sos., selaku Dosen S1 KPI. Ia membawakan materi bertajuk "Kompas Dakwah Digital: Sintesis Panduan, Etika dan Fatwa MUI untuk Dakwah di Era Media Sosial". Materi ini memberikan landasan teologis sekaligus etis bagi para pendakwah agar konten yang disebarkan tidak hanya menarik, tetapi juga mematuhi syariat Islam dan regulasi hukum positif.
Setelah kedua materi selesai, para peserta diarahkan untuk mengikuti sesi diskusi dan refleksi guna memformulasikan strategi dakwah yang efektif di wilayah Teras.
Rangkaian acara yang berlangsung hingga sore hari ditutup dengan sesi penguatan, kesimpulan materi, serta evaluasi kegiatan. Sinergi antara kaum akademisi dan praktisi dakwah desa ini diharapkan menjadi role model yang bermanfaat tidak hanya bagi pendakwah Teras, tetapi juga masyarakat umum secara luas.
Lebih jauh, temuan-temuan dari riset partisipatoris (PAR) ini akan disusun secara sistematis untuk dipresentasikan pada IDACON pada bulan September 2026, membawa suara dakwah pedesaan Boyolali ke kancah internasional.(prfdk)