Di tengah dunia yang diwarnai perubahan iklim, eksklusi sosial, hingga polarisasi media digital, Internasional Dakwah ke-10 (The 10th IDACON 2026) menjadi ruang perjumpaan untuk merenungkan kembali peran agama dan dakwah bagi kemanusiaan. Forum bertema “Da’wah, Humanity, and Global Coexistence: Repositioning Religion in a Fragmented World” ini digelar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga di kompleks Hotel Mustika Yogyakarta, Rabu (30/9).
Dalam sesi pembukaan, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan menekankan pentingnya pergeseran cara pandang terhadap dakwah di era modern. Menurutnya, tantangan zaman menuntut pesan-pesan keagamaan bermuara pada perbaikan kualitas hidup dan pemulihan tatanan sosial.
"Dakwah hari ini tidak lagi dipahami sekadar upaya memenangkan argumen doktrinal, melainkan praktik menghidupkan kemanusiaan, pemulihan sosial, dan pembentukan komunikasi etis yang membangun kepercayaan di masyarakat," ujar Prof. Noorhaidi Hasan.
Pandangan senada disampaikan oleh Dekan FDK UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Arif Maftuhin, M.Ag., M.A.I.S.. Dalam paparannya mengenai inklusivitas dan fikih disabilitas, ia menyoroti bagaimana lembaga keagamaan kerap memberikan keringanan (rukhsah) tanpa merombak struktur pelayanan yang ada.
"Ketika ruang, bahasa, dan prosedur lembaga belum memberikan akses penuh, pertanyaannya harus diubah: bukan sekadar keringanan apa yang bisa kita berikan, melainkan apa yang harus kita ubah agar setiap orang merasa memiliki dan menjadi bagian," tegas Prof. Arif Maftuhin.
Sementara itu, isu lingkungan menjadi salah satu sorotan utama dalam diskusi IDACON 2026. Guru Besar dari Radboud University Nijmegen, Belanda, Prof. Frans Wijsen, memaparkan data empiris terkait persepsi masyarakat terhadap kelestarian alam. Ia mengingatkan bahwa keberadaan doktrin keagamaan tidak serta-merta mengubah perilaku manusia tanpa adanya keteladanan dan tindakan nyata.
"Masalah lingkungan hidup tidak terjadi karena masyarakat kekurangan informasi, melainkan bagaimana informasi itu diproses. Eco-dakwah memerlukan komitmen langsung—praktikkan apa yang Anda khotbahkan," kata Prof. Frans Wijsen sembari mengutip dorongan untuk berlomba dalam kebaikan.
Menanggapi krisis ekologi tersebut, akademisi UIN Sunan Kalijaga Prof. Siti Syamsiyatun, Ph.D., membawa perspektif ekofeminisme Islam dan pengalaman gerakan perempuan keagamaan seperti 'Aisyiyah dan Muslimat NU. Ia menekankan pentingnya perluasan maqasid al-shari'ah melalui perlindungan lingkungan (hifz al-bi'ah) sebagai amanah keimanan bersama.
"Bumi bukan sumber daya untuk ditaklukkan, melainkan bagian dari kesadaran ilahi. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan teknis atau ekonomi, melainkan pelanggaran spiritual terhadap ciptaan," ungkap Prof. Siti Syamsiyatun.
Konferensi ini juga mempertemukan pengalaman praktis dari berbagai negara. Pembicara dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Dr. Nik Suhaida Nik Abdul Majid, membagikan bagaimana kearifan lokal dan nilai-nilai Islam dapat diterjemahkan ke dalam tata kelola institusi yang profesional, seperti industri halal dan keuangan syariah.
"Masa depan dakwah tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas ajaran disampaikan, melainkan seberapa bijak nilainya dikontekstualisasikan dan diterjemahkan ke dalam lembaga yang memberikan manfaat nyata bagi kemanusiaan," papar Dr. Nik Suhaida.
Sementara itu, pengajar Department of Social Work National Taipei University, Shu-Hua Kang, Ph.D., membagikan pendekatan kerja sosial berbasis seni partisipatif—seperti pameran Together With You dan Museum Ama—sebagai media pemulihan luka sosial dan kekerasan.
"Praktik berbasis seni mampu membuat ingatan yang menyakitkan dapat dihadapi secara bermakna, sekaligus menghadirkan ruang publik partisipatif bagi empati dan pengakuan sosial atas harkat kemanusiaan korban," tutur Shu-Hua Kang, Ph.D. (prfdk)