Kursinya Dr. H. Rifai, M.A., kosong di hari itu, Senin
(31/8). Namun kehadirannya justru terasa penuh di acara Pidato Purna Tugas
dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan
Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga yang berlangsung di Teatrikal FDK itu
berlangsung tanpa sosok yang paling dinantikan. Kondisi fisik yang tiba-tiba
menurun memaksa Rifai absen dari momen yang sejatinya digelar untuk
menghormatinya.
Bahkan sebelum acara dimulai, sikap rendah hati Rifai sudah
sempat terungkap. Ketua Program Studi BKI, Zaen Musyrifin, yang menghubunginya
beberapa saat sebelum acara berlangsung, menceritakan keengganan sang senior
saat tahu dirinya hendak diberikan penghormatan khusus.
"Beliau mengatakan, 'Kok rasanya kurang pas ya jika
dibuatkan acara spesial ini, karena saya merasa kurang banyak berkontribusi
selain mengajar, membimbing, menguji, dan seterusnya,'" tutur Zaen
menirukan ucapan koleganya itu.
Namun, anggapan tentang minimnya kontribusi tersebut segera
ditepis oleh rekan kerjanya. Evi Septiani, rekan dosen yang telah mengenal
Rifai sejak masa kuliah bersama tahun 1994 di Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid
Syuhada (STAIMS) Yogyakarta, bersaksi bahwa dedikasi Rifai justru terletak pada
kerjanya yang sunyi namun berkesinambungan.
"Dan saya tahu beliau sejauh ini cukup serius dan ulet
dalam mengerjakan pekerjaanya. Meskipun tidak nampak wujudnya," ungkap Evi
mengapresiasi ketangguhan sahabatnya yang juga aktif memimpin Ikatan Alumni
Syuhada tersebut.
Karakter disiplin tanpa pamrih ini juga membekas kuat di
hati rekan sejawatnya, Irsyadunas. Sejak kepulangan Rifai ke UIN Sunan
Kalijaga, ia dikenal sangat tertib dalam menuntaskan segala tanggung jawab
administratif maupun akademis di program studi.
"Beliau orangnya sangat disiplin dalam mengajar di
dalam berkegiatan dan sangat rapi juga sangat detail dalam pekerjaannya,"
kenang Irsyadunas, menggambarkan bagaimana sang senior selalu menyelesaikan
tugas tanpa menunda-nunda waktu.
Ketegasan yang dibalut kehangatan itu rupanya juga dirasakan
langsung oleh para mahasiswa di ruang kelas. Muhammad Satrio Mufid Mafendi,
mahasiswa aktif BKI angkatan 2023, mengenang bagaimana Rifai selalu menantang
mahasiswa untuk belajar serius melalui ujian tertulis yang ketat.
"Kesan yang paling teringat dari Pak Rifai adalah
beliau adalah dosen yang tidak pernah melaksanakan ujian secara online. Jadi
ujiannya selalu offline, selalu pakai kertas, dan selalu closeb book,"
kisah Mufid. Meski begitu, di balik ujiannya yang mendebarkan, Rifai dikenal
sebagai sosok penyabar yang tak pernah marah dan sangat toleran memaafkan
keterlambatan mahasiswa
Pelepasan purna tugas bagi dosen BKI ini bukan sekadar
seremoni birokrasi biasa. Bagi sivitas akademika FDK, momen ini merupakan ruang
refleksi berharga untuk memaknai kembali arti kedisiplinan, ketekunan bekerja,
serta keikhlasan mendidik yang ditinggalkan oleh sang guru selama
bertahun-tahun di kampus tersebut.(prfdk)